Dwiasharialdy. http://dwiash.posterous.com Tentang Saya dan lain lain posterous.com Sat, 29 Nov 2008 10:10:32 -0800 Me, My Notebook and Linux http://dwiash.posterous.com/blog/me-my-notebook-and-linux.html http://dwiash.posterous.com/blog/me-my-notebook-and-linux.html Notebook saia ini adalah sebuah Acer Aspire 4530. Benda ini saya beli saat bulan puasa pada bulan september lalu. Saya membelinya sebelum dolar naik, jadi (mungkin) harganya masih tidak semahal saat ini. Notebook ini sangat membantu saya dalam melakukan berbagai pekerjaan baik tugas kuliah maupun kerjaan dari kantor. Yang paling penting, saya tidak perlu lagi duduk berjam-jam di depan komputer tua saya hingga pegal-pegal dan pantat saya terasa sakit saat mengerjakan kerjaan (jika anda belum tahu, saya adalah seorang tukang ketik kode program). Tapi kini saya bisa mengerjakan segala sesuatu dengan notebook ini dalam berbagai posisi: duduk; selonjoran; tengkurap; sambil nonton TV dan berbagai posisi lainnya yang tidak perlu anda ketahui. Intinya notebook ini menjadi benda terpenting bagi saya (paling tidak untuk saat ini) yang telah menggantikan komputer berusia - kira-kira - 6 tahun pemberian orang tua saya yang sebelumnya telah menjadi work horse bagi saya. Saking pentingnya benda ini untuk saya, sampai-sampai pernah membuat seseorang jealous karena perhatian saya lebih banyak tertuju pada notebook ini, namun hal ini tampaknya tidak perlu saya bahas disini ;-P Salah satu hal yang cukup membuat saya sibuk dengan notebook ini adalah perihal sistem operasi. Sejak notebook ini tidak disertai dengan sistem operasi yang legal (baca:windows) maka untuk menghindari sweeping ;-P, saya membutuhkan sebuah sistem operasi yang murah dan legal. Pilihan saya tentu saja jatuh pada linux karena selain gratis, linux pun powerfull. Namun karena notebook ini merupakan notebook keluaran baru, tidak semua linux kompatible dan dapat langsung beroperasi dengan mulus setelah diinstalkan. Setelah googling, akhirnya saya menemukan beberapa distro yang beroperasi cukup baik pada notebook saya ini. Pada saat saya melakukan pencarian tersebut, hanya OpenSuse 11, Mandriva 2008.1 saja yang dilaporkan dapat beroperasi cukup baik, walaupun - katanya - masih banyak device yang belum terdeteksi. Akhirnya saat itu saya memutuskan untuk menggunakan OpenSuse 11, karena seingat saya, OpenSuse selalu memiliki tampilan dan artwork yang cukup baik dibandingkan dengan distro lainnya. Memang benar, dari proses installasi hingga beroperasi tidak ditemukan kendala berarti. Namun memang untuk beberapa device belum terdeteksi, dan parahnya device tersebut adalah device-device yang cukup penting seperti wi-fii, soundcard dan graphic card. Namun setelah mengupgrade kernel dan menginstall driver NVIDIA, semua kendala tersebut dapat diatasi dan saya dapat menikmati notebook saya dengan cukup puas. Penggunaan OpenSuse pada notebook ini tidak berlangsung cukup lama. Karena beberapa minggu setelah itu, Saya mencoba untuk menggunakan Mandriva 2009. Dengan kernel 26.2.7 nya, ternyata hampir semua device di notebook saya ini dapat terdeteksi dan beroperasi kecuali webcam, namun itu tidak terlalu penting bagi saya. Setelah itu saya menggunakan Mandriva One 2009 untuk waktu yang cukup lama. Namun setelah sekian lama saya menggunakan Mandriva, saya merasakan salah satu kekurangan pada Mandriva, yaitu sulitnya untuk mengupdate dan menginstallkan aplikasi yang saya butuhkan. Hal ini disebabkan karena tidak adanya miror local yang menyediakan repository mandriva dan tidak ada yang menjual dvd berisi repositorynya di indonesia (setidaknya pada saat itu). Akhirnya saya mencoba menggunakan Ubuntu 8.10. Alasan saya untuk mencoba ubuntu adalah karena Ubuntu adalah distro linux yang paling banyak digunakan saat ini, selain itu banyak miror-miror lokal yang menyediakan repositorynya. Awalnya saya mencoba versi 64 bit untuk prosesor amd, namun sejak proses booting pun tidak berjalan lancar dan sama sekali tidak dapat masuk ke sistem linuxnya. Kemudian saya mencoba versi i386nya. Hasilnya cukup memuasakan, walaupun driver graphic cardnya tidak langsung dapat digunakan. Selain itu terdapat masalah pada driver wi-fii, ubuntu menginstalkan versi driver yang berbeda dengan versi wi-fii adapter yang terdapat di notebook saya. Akhirnya setelah googling saya dapat menyelesaikan masalah ini, yaitu dengan memakai driver untuk windows dengan bantuan ndiswrapper. Untuk waktu yang tidak ditentukan, saya pikir saya akan cukup nyaman menggunakan Ubuntu. Hampir semua yang saya butuhkan tersedia di Ubuntu dari mulai tugas kuliah hingga pekerjaan dapat saya kerjakan pada ubuntu, kecuali mungkin untuk bermain game, saya masih membutuhkan sistem operasi ilegal. Dan Berikut adalah screenshot dari desktop Ubuntu 8.10 yang saya gunakan : [caption id="attachment_53" align="alignnone" width="515" caption="Gambar 1: Desktop Ubuntu 8.10"]
Media_httpdwiasharial_czxax
[/caption]

Permalink | Leave a comment  »

]]>
http://files.posterous.com/user_profile_pics/611656/for-dummies-2.png http://posterous.com/users/5AqfmAZP9HxL Dwi Asharialdy Hambali dwiasharialdy Dwi Asharialdy Hambali
Mon, 02 Jun 2008 08:10:43 -0700 Processing: menggambar dengan algoritma http://dwiash.posterous.com/blog/processing-menggambar-dengan-algoritma.html http://dwiash.posterous.com/blog/processing-menggambar-dengan-algoritma.html [caption id="attachment_49" align="alignnone" width="515" caption="Gambar 1: Contoh hasil dari Processing"]
Media_httpdwiasharial_ixbwy
[/caption] Processing adalah sebuah bahasa pemprograman open source yang ditujukan khusus untuk para desiner/seniman yang menggunakan komputer/software sebagai media kreativitasnya. Penggunaan komputer disini bukanlah seperti seorang artis menggunakan Adobe Illustrator untuk membuat sebuah gambar vektor, tetapi lebih kepada seorang artis menggunakan bahasa pemprograman (tentu saja dengan menulis algoritmanya) untuk membuat gambar/animasi. Biasanya hal seperti ini disebut sebagai computational art atau generative art atau algorithmic art. Jika anda tidak mengenal term tersebut, anda pasti pernah melihat visualisasi pada Winamp atau media player lainnya. Ya, kira-kira seperti itulah generative art. Menurut saya hal ini sangatlah unik, karena untuk untuk membuat karya tersebut sangat dibutuhkan kerjasama antara otak kanan dan otak kiri yang baik. Kembali kepada Processing. Processing dikembangkan diatas Java sehingga tak heran jika syntax dan aturan mainnya pun sangat mirip dengan java. Saat di-compile pun, output yang dihasilkan adalah file berbentuk java aplet untuk diimplementasikan di web dan 3 buah file executable untuk 3 flatform berbeda (windows, mac & linux). Karena sasarannya adalah artis, maka processing didesain secara sederhana dengan syntax yang cukup simple dan human-readable (setidaknya untuk seniman digital) serta IDE yang sangat sederhana (pula). IDE tersebut hanya terdiri dari sebuah text editor untuk mengedit source-code, sebuah toolbar dan sebuah panel console ditambah dengan sebuah window yang akan muncul jika project di-run. [caption id="attachment_50" align="alignnone" width="515" caption="Gambar 2: Processing IDE"]
Media_httpdwiasharial_cvbvj
[/caption] Sebenarnya Processing bukanlah bahasa pemprograman pertama yang ditujukan bagi dunia seni. Beberapa diantaranya adalah ActionScript, design by number dan lingo. Karena sebelumnya saya tidak pernah menggunakan Design by Number dan Lingo, saya tidak dapat memberikan perbandingan dengan Processing. Namun saya cukup mengenal ActionScript sehingga saya bisa berpendapat keduanya memiliki beberapa kelebihan dan kekurangan. Salah satu keunggulan Processing dibandingkan dengan ActionScript/flash adalah processing dikembangkan diatas teknologi java, sehingga untuk menangani pengolahan data yang cukup besar, processing akan lebih unggul dibandingkan dengan flash/ActionScript (karena pemprograman untuk generative art biasanya menggunakan jumlah data yang cukup besar dengan looping yang cukup banyak pula). Selain itu syntax pada processing lebih mudah dimengerti oleh kalangan non-programmer jika dibandingkan dengan flash/ActionScript. Namun jika melihat kepopuleran tentu saja Flash/ActionScript lebih populer dibandingkan dengan processing (sejauh ini saya telah lebih banyak melihat web berisi flash dibanding web berisi java aplet). Tapi, jika anda merasa penasaran dengan Processing, saya anjurkan anda untuk mendownloadnya di http://processing.org. Di dalam paket yang didownload tersebut terdapat banyak contoh aplikasi yang telah berhasil membuat saya takjub. Selain itu, saya menganjurkan anda untuk mengunjungi situs berikut: http://www.openprocessing.org/ dan http://www.tom-carden.co.uk/processingblogs/ Oh iya, gambar pada permulaan artikel ini adalah karya pertama saya menggunakan processing. Karya ini adalah modifikasi dari salah satu contoh yang disertakan dalam paket installasi Processing. Jika anda ingin mencoba java apletnya, silakan klik disini.

Permalink | Leave a comment  »

]]>
http://files.posterous.com/user_profile_pics/611656/for-dummies-2.png http://posterous.com/users/5AqfmAZP9HxL Dwi Asharialdy Hambali dwiasharialdy Dwi Asharialdy Hambali